Akreditasi Institusi STAI Al Hikmah Tuban

Dua orang asesor yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mereka adalah Prof. Subanar, Ph.D dari Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dr. Ahmad Yani Anshori, M.Ag., dari Fakultas Syari’ah Univeritas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keduanya adalah dua orang asesor yang ditunjuk BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) untuk memvisitasi beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur pada bulan Agustus 2017 ini, termasuk salah satunya adalah institusi dimana saya bekerja, STAI Al Hikmah Tuban.

Tepat pada hari jum’at, 18 Agustus 2017 akreditasi itu dilaksanakan. Mulai dari pagi, pukul 08.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB, dengan jeda Ishoma di siang hari. Persiapan telah dipersiapkan jauh-jauh hari, kurang lebih 5 bulan sebelumnya. Dengan bantuan seorang konselor akreditasi, panitia pesiapan akreditasi yang terdiri dari para dosen dan staff, bersama menyusun borang akreditasi dengan sebaik-baiknya, yang kemudian dilanjutkan melengkapi dokumen-dokumen bukti fisiknya. Dokumen bukti fisik adalah semua dokumen (buku, blangko, manual prosedur, dan sebagainya) yang menjadi pedoman aplikatif bukti dilaksanakannya pengelolaan dan aktifitas pergutuan tinggi yang meliputi 7 standar pergutuan tinggi. Sungguh pekerjaan yang melelahkan, karena panitia harus melengkapi semua bukti dokumen fisik itu dalam waktu yang relatif singkat, karena surat perintah visitasi dari BAN-PT mendadak sekali keluarnya.

Dari visitasi tersebut, banyak sekali kritik konstruktif yang kita dapatkan. Dua asesor yang tegas namun ramah, membuat proses akreditasi berjalan lancar dan penuh canda tawa. Kami bertekad selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas manajerial dan layanan pendidikan di STAI Al Hikmah ini. Dengan kerja tim yang kompak, semuanya pasti bisa teratasi. Amin.

Bicara tentang borang akresitasi institusi, dokumen ini terdiri dari 3 bagian. Pertama adalah borang institusi sendiri yang terdiri dari 7 (tujuh) standar pendidikan tinggi. Tujuh standar itu antara lain; a) standar 1: visi, misi, tujuan dan strategi pencapaiannya, b) standar 2: tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu, c) standar 3: mahasiswa dan lulusan, d) standar 4: sumber daya manusia, e) standar 5: kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik, f) standar 6: pembiayaan, sarpras dan sistem informasi, dan g) standar 7: penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama.

Bagian kedua adalah dokumen evaluasi diri. Dokumen ini berisi catatan evaluasi terhadap tujuh standar yang telah dipaparkan pada dokumen pertama. Segala kendala dan capaian dalam tiap standar pendidikan tinggi itu dikoreksi sedemikian rupa sisi positif dan negatifnya. Bagian ini, hanya dapat disusun setelah selesai menelaah semua dokumen standar 1 sampai dengan 7.

Sedangkan yang ketiga adalah dokumen lampiran, yang terdiri dari SK pendirian Institusi, SK pendirian Prodi dan sertifikat akreditasi perguruan tinggi atau prodi yang telah dilakukan sebelumnya. Ketiga dokumen tersebut diprint out dan dijilid, sambil diburning di CD dan kemudian dikirimkan di BAN-PT pusat di Jakarta. BAN PT memeriksa dan memberikan tenggat waktu pendaftaran akreditasi institusi yang dibuka untuk seluruh perguruan tinggi se Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Sebelum tenggat waktu itu ditutup, tiap kampus yang menginginkan dilakukan visitasi terhadap institusinya, haruslah mengirimkan dokumen borang akreditasinya sebelum tenggat waktu itu habis. Jika sudah, kemudian akan dibuatkan jadwal visitasi yang akan dilakukan oleh dua orang asesor untuk tiap satu perguruan tinggi.

Saya terkesan dengan kedua asesor. Sikapnya yang ramah, apa adanya, tidak ragu-ragu dalam mengkritik dan selalu menyertai kritikannya dengan solusi-solusi konstruktif. Pertama adalah Prosefor Subanar. Ia adalah asli orang Trenggalek Jawa Timur, yang sangat paham terhadap budaya Jawa dan ramah dengan sesama. Ia Guru Besar Matematika di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia secara fokus mengoreksi dokumen borang akreditasi institusi—yang di dalamnya lengkap berisi uraian 7 standar—dengan sangat teliti. Kami yang bertanggung jawab di tiap standar sampai berkeringat dingin menjawab pertanyaan dari beliau. Kekurangan kami yang paling fatal adalah kami tidak menggambarkan fakta real sebenarnya keadaan kampus. Beliau justru tidak senang ketika dokumen yang disusun beserta bukti fisiknya itu tidak sesuai atau terlalu melangit dari keadaan institusi yang sebenarnya. Ia mengatakan “sudahlah, tidak usah berputar-putar, kita sama-sama orang Jawa, tolong Anda jawab yang sebenarnya terjadi, saya lebih senang demikian, dan itu tidak masalah”. Sembari diselingi candaan ringan, membuat suasana cair dan mengurangi ketegangan.

Asesor kedua yang juga membuat saya terkesan adalah, Doktor Ahmad Yani Anshori. Untuk asesor yang satu ini kami tidak terlalu cemas dan khawatir, karena ia berasal dari kultur yang sama dengan kampus STAI Al Hikmah, yaitu kultur pesantren. Ia asli orang Rembang dan sekarang bekerja di almamater UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tepatnya di fakultas Syariah. Disamping itu, beberapa dosen kami juga sudah mengenal beliau, karena dulu pernah menjadi mahasiswanya selama kuliah S1. Badannya tinggi besar dengan berhias songkok hitam ala Soekarno, membuat banyak teman-teman dosen perempuan terkesan. Satu hal yang tak pernah lekang darinya adalah ia selalu menyempatkan menghisap rokok saat waktu santai. Kalau Prof. Subanar lebih fokus pada redaksional dokumen print out dan bukti fisik borang, maka Doktor Yani lebih fokus pada pencatatan hasil temuan visitasi pada aplikasi penilaian di komputer. Sesekali ia memberikan kritikan dan masukan kepada jajaran kampus, menambahi paparan dari Prof. Subanar. Proses itu berlangsung mulai pagi, dan tepat saat maghrib semua rangkaian acara sudah rampung.

Apapaun hasinya, kami bisa menerima dengan lapang dada. Karena segala biaya, daya dan upaya telah kami lakukan. Nilai akreditas A, B atau C akan sangat bermanfaat bagi institusi STAI Al Hikmah Tuban, karena kampus telah berstatus terakreditasi, yang pertama kali. Perjalanan Kampus yang berada di bawah naungan yayasan Pondok Pesantren Al Hikmah Singgahan Tuban ini mengalami grafik perkembangan yang signifikan, dalam besutan tangan dingin KH. M. Husnan Dimyathi. Berawal dari kelas jauh UNISLA yang kini sudah ditutup dan berdiri sendiri dengan nama STAI Al Hikmah Tuban, hari ini sudah dipercaya oleh masyarakat Tuban dan sekitarnya. Lima program studi, yaitu Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Guru MI, Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Ekonomi Syari’ah dan Ahwal AL-Syahsiyah kini sudah ramai dipenuhi mahasiswa. Program ke depan adalah perbaikan sistem pengelolaan sebagaimana rekomendasi dari kedua asesor, pembukaan prodi baru dan peralihan status menjadi institut. Semua ini perlu upaya ekstra dari semua pihak dan tentunya dukungan dari pemerintah.

 

Wallalu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *